Senin, 26 Agustus 2013

APA ITU APOLOGETIK?




APA ITU APOLOGETIK?

Istilah yang digunakan mengenai usaha pembelaan iman Katolik adalah Apologetik. Apologetic merupakan suatu cara untuk untuk memahami, menjelaskan dan mempertahankan iman Katolik dengan memberikan jawaban-jawaban atau argumen-argumen dengan cara yang rasional terhadap berbagai tuduhan yang diarahkan mengenai iman Katolik. Orang yang melakukan kegiatan apologetik disebut apologist.
Ini adalah cara umat Katolik membela iman [berapologetik] menurut Kitab Suci :1Ptr 3:15-16

15. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, 16. dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

Kristus memberikan tugas kepada semua muridnya untuk mewartakan kabar gembira. [bdk. Mat 28:19-20] Nah, apologetik membantu kita dalam melaksanakan tugas ini. Apologetik juga memainkan peran yang cukup penting dalam Evangelisasi. Evangelisasi berarti mewartakan kebenaran Kristus.
Seringkali kebenaran akan Kristus menimbulkan banyak pertanyaan dan juga keberatan mengenai iman. Disinilah tugas para apologist untuk berapology dengan menjawab berbagai pertanyaan dan keberatan tersebut.


sumber: situs Iman Katolik
Read more »

"AKU RINDU ENGKAU, TUHAN DALAM SAKRAMEN MAHAKUDUS"



"AKU RINDU ENGKAU, TUHAN DALAM SAKRAMEN MAHAKUDUS"

Paus Yohanes Paulus II pernah berkata tentang MISA (EKARISTI);

"MISA KUDUS sebagai Surga di atas bumi," yang berarti bahwa "liturgi yang kita rayakan di bumi ini merupakan partisipasi kita yang penuh misteri dalam liturgi surgawi."


Lalu, pengarang buku "The Lamb's Supper: The Mass as Heaven on Earth," Scott Hahn menambahkan:

"Apa yang kita rayakan dalam Ekaristi kudus adalah apa yang diwahyukan oleh Allah kepada Yohanes dalam Kitab Wahyu. Dengan kata lain, "kunci untuk mengerti Misa Kudus ada di dalam Kitab Wahyu dan lebih jauh lagi bahwa hanya melalui Misa Kudus umat Kristen dapat mengerti Kitab Wahyu."

Scott Hahn sampai berujar ketika mengikuti Misa Kudus pada saat-saat awal sebelum menjadi seorang Katolik dengan mengutip isi Kitab Wahyu: "Kemudian dari pada itu aku melihat; sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga..."(Why 4:1) dan pintu-pintu terbuka pada...MISA KUDUS YANG DIRAYAKAN SETIAP HARI (MINGGU) DI PAROKI KITA MASING-MASING.


Karena itu, aku menambahkan;

"Jika saja para imam yang diberi wewenang khusus untuk menjadi "in persona Christi" menyadari dengan sungguh apa yang sedang dirayakannya....Jika saja umat yang menghadiri Misa Kudus menyadari bahwa Kristus sedang menyapa dan datang tinggal di hati mereka dengan memberi Tubuh dan Darah-Nya sebagai SANTAPAN SURGAWI bagi kita di dunia ini, maka betapa bahagianya setiap jiwa dalam perayaan itu karena Sang Pemilik jiwa sedang melawatinya.

Akhirnya, sebelum beristirahat....kuajak para sahabat untuk menyanyikan lagu kerinduan ini;

Aku rindu akan Tuhan
Dalam sakramen Terkudus
Aku rindu menerima
Yesus Allah manusia
Yesus, Yesus datanglah

Bila Yesus dalam jiwa
Aku sangat berbahagia
Tengah tipu musuh jiwa
Yesus lindung manusia
Dengan nikmat-nikmatNya

Salam Tubuh termulia
Yang dilahirkan Maria
Salahku telah tersilih
Oleh mautMu di salib
Hingga layak bagiMu


Selamat beristirhat untuk para sahabat...


Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Rinnong***


Source : FB Bangga Menjadi Katolik
Read more »

Kamis, 11 Oktober 2012

Mengenal Tuhan (1)

Ayat bacaan: Hosea 4:6a
===================
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"

Jalan makin semrawut, selain karena jumlah kendaraan bertambah banyak, tapi salah satu penyebab utamanya adalah ketidak-patuhan pengendara terhadap peraturan berlalu lintas. Perhatikanlah, semakin banyak orang yang 'nyelonong' seenaknya tanpa peduli peraturan dan etika mengemudi. Bikin SIM sistim tembak lewat calo, tidak mau repot, akhirnya semakin banyak orang yang tidak paham betul mengenai peraturan atau rambu-rambu. Masih mending jika hanya bikin macet dan semrawut. Bagaimana jika itu mendatangkan bahaya baik kepada diri sendiri atau juga membahayakan nyawa orang lain? Sekedar bisa mengemudi saja tidaklah cukup. Pengetahuan umum mengenai rambu dan tata cara berkendara lainnya pun wajib kita ketahui jika kita mau selamat di jalan. Pengenalan yang benar selain bisa menjaga ketertiban dan kelancaran di jalan tapi juga mampu menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya.

Dalam hal kerohanian hal ini pun berlaku. Alangkah bahayanya jika kita mengaku percaya Tuhan, tapi sesungguhnya tidak cukup mengenalNya, atau malah tidak mengenalNya sama sekali. Mungkin kita berkata, kita kan sudah ke gereja, atau kita sudah berdoa? Tapi kenyataannya ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan, tradisi dan alasan-alasan lainnya selain ingin mengenal Tuhan secara lebih dalam lagi. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal Allah, dan ketidaktahuan itu bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan.

Dalam kitab Hosea kita bisa melihat mengapa Israel akhirnya binasa. Kelakuan mereka yang buruk berlarut-larut kemudian mendatangkan murka Tuhan. Alasannya jelas dikemukakan Tuhan secara singkat dan jelas. "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah" (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Hosea pasal 4 berjudul "Menentang imam dan bangsa yang tidak setia". Tidak setia, itu salah satu tanda bahwa kita tidak mengenal Tuhan, Kita tidak tahu bagaimana kesetiaan itu menjadi sebuah dasar utama untuk menerima anugerahNya dan tidak tahu pula bahwa pembangkangan akan menjauhkan kita dari itu semua bahkan menjadi sumber kehancuran bagi kita sendiri. Pasal ini dimulai dengan: "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." (ay 1). Tiga alasan penting yang saling berhubungan dan membuat Tuhan marah disebutkan dengan jelas, yaitu:
- Tidak setia
- Tidak memiliki kasih
- Tidak mengenal Allah.
Apa yang dilakukan orang Israel pada masa itu sungguh keterlaluan. Mereka "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah." (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai semua anak-anak Tuhan, kita semua yang menjabat status sebagai "imamat yang rajani" (1 Petrus 2:9) atau seperti yang disebutkan dalam kitab Wahyu: "Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." (Wahyu 1:5-6). Semua pembangkangan ini membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensinya.

Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel yang tegar tengkuk, kita bisa melihat bahwa menolak pengenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Ada banyak orang yang hanya mengandalkan pendeta atau pelayan Tuhan saja tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih jauh dalam hidupnya. Ada banyak yang menunda-nunda karena masih mau "menikmati" hidup, ada yang menganggap bahwa urusan kerohanian hanya urusan orang yang tua saja. Padahal Tuhan telah memperlihatkan bahwa tanpa keinginan untuk mengenal Dia akan membuat kita menuai bencana.

(bersambung)

Read more »

Rabu, 10 Oktober 2012

Pemenang

Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."

Tanyakan kepada olahragawan manapun apakah mereka pernah ingin bertanding untuk kalah atau sekedar menjadi penggembira saja. Tentu saja pikiran seperti itu tidak pernah ada di benak mereka. Mereka melakukan usaha dan latihan serius dalam waktu yang panjang tentu dengan harapan untuk bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Para atlit pasti ingin mengukir prestasinya sebagai yang terdepan di cabang yang mereka geluti. Tidak ada satupun olahragawan yang bersiap untuk kalah , semua berlomba untuk menang dan keluar menjadi juara. Tidak hanya atlit, tetapi dalam kehidupan kita masing-masing kitapun ingin mengukir prestasi setinggi mungkin. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan "gelanggang-gelanggang" pertandingan yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi dan berhasil di dalamnya. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya dengan segudang usaha keras. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk bisa mengukir prestasi. Tanpa itu maka jangan harap prestasi mampu diraih.

Apakah Paulus sempat menjadi atlit, hobi olah raga, atau merupakan pengamat olah raga seperti orang-orang yang selalu kita lihat dalam setiap siaran pertandingan olah raga di televisi? Entahlah. Tapi yang pasti Paulus banyak mengambil perumpamaan lewat beberapa jenis olah raga. Selain tinju, lari merupakan satu diantaranya. Lihat apa kata Paulus berikut: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24). Paulus mengingatkan hal ini karena dia menyadari betul bahwa hidup ini pun bagaikan sebuah perlombaan. Tidak semua orang mampu mencapai garis finish dan keluar sebagai pemenang, semua tergantung keseriusan, kerja keras dan usaha sungguh-sungguh kita untuk bisa menjadi pemenang. Seperti itulah Paulus menggambarkan kehidupan iman kita. Perjuangan yang harus dihadapi sepanjang hidup sama sekali tidak mudah. Selalu saja ada hambatan atau halangan yang harus kita lewati, dan itu bukan hal yang sepele. Sedikit saja lengah kita bisa terjatuh dan gagal untuk mencapai garis akhir. "Karena itu larilah begitu rupa, do your very best in it, sehingga kamu memperolehnya." kata Paulus.

Seperti apakah hadiah yang disediakan bagi pemenang dalam menghadapi perlombaan di dalam kehidupan kerohanian kita? Mari kita baca kelanjutan kata-kata Paulus diatas. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana seperti segala bentuk mahkota yang terhebat atau paling prestisius yang bisa kita miliki di dunia ini, melainkan sebuah MAHKOTA YANG ABADI. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan dan cabaran hingga mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Selanjutnya, mental juara pun menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan kita dalam melewati segala tantangan. Betapa seringnya kita menyaksikan para atlit atau tim yang sebenarnya punya skill tinggi dan mampu bermain baik, tetapi mereka gagal karena tidak punya mental juara. Karena itu, kita pun harus terus membangun mental seperti seorang juara sedini mungkin. Bagaimana caranya? Ada ayat yang sangat baik untuk kita renungkan agar mental juara ini bisa tumbuh dalam diri kita. Sebuah ayat yang menggambarkan seperti apa hakekat kita yang sebenarnya. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Seperti itulah sebenarnya kita dicanangkan. Bukan hanya sekedar menang, tapi justru lebih dari pemenang. Kita harus tahu dengan benar seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." (1 Korintus 9:26). Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia alias tidak berguna. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Mental juara jelas dibutuhkan untuk itu. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasi yang sedang dan akan anda hadapi, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, Keep running on the right track, and do your best in it. Jangan melenceng sedikitpun, dan berlombalah sebaik-baiknya. Jangan terganggu oleh apa yang ada dibelakang sana, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita untuk mencapai garis finish, bahkan mungkin bisa menjadikan kita gagal. "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Perlombaan sesungguhnya sedang kita hadapi, dan tidak semua orang bisa mencapai garis kemenangan dan memperoleh mahkota abadi. Teruslah berjuang, dan jadilah pemenang.

Seperti seorang atlit, miliki mental juara dalam bertanding untuk memperoleh mahkota yang dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Read more »

Selasa, 09 Oktober 2012

Imlek dan Keharmonisan

Oleh Ibn Ghifarie
Diakui atau tidak, akulturasi antara etnis Tionghoa dan Sunda adalah kegairahan yang tak pernah usai. Itu karena kedua keturunan ini menyakini sekaligus mewujud pada sosok Sunan Gunung Djati. Apalagi, saat Syarif Hidayatullah (Ki Sunda) menikahi Putri Ong Tin Nio (China). Sungguh keharmonisan di antara kedua golongan ini tak terpisahkan lagi.
Ini terlihat dari sajian makanan (Babah ke Abah) seperti capcay, somay (siomay). Kehadiran kain samping (sarung) dan ritual menabur bunga rampe setiap Jumat pun melekat pada kehidupan keturunan China di Parahyangan ini.
Soeria Disastra, budayawan Tionghoa, mengakui, warga Tionghoa yang lahir dan besar di Bandung pada umumnya memiliki dua bahasa ibu (Tionghoa dan Sunda). "Kebudayaan Sunda dan Tionghoa saling memengaruhi."
Kini, warga keturunan Tionghoa dapat hidup berdampingan dalam suasana aman, damai, dan toleran dengan urang Sunda kendati harus rela berdesak-desakan.

Jejak
Kehadiran Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari 2010 diharapkan menjadi momentum awal dalam menjaga keharmonisan antaretnis sekaligus membangun kerukunan di Tatar Sunda ini.
Paling tidak ada beberapa kedamaian yang telah mendarah daging pada aktivitas keseharian Tionghoa-Sunda, di antaranya pertama, pecinan atau perkampungan China. Menurut Kuncen Bandung, Haryoto Kunto, dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung saat meletus Perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, mereka tinggal (menetap dan mencari nafkah) di Kampung Suniaraja dan Jalan Pecinan lama.
Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jalan Kelenteng. Tahun 1905 pecinan berkembang pesat di sekitar Pasar Baru. Kios jamu Babah Kuya milik Tan Sioe How di Jalan Belakang Pasar (1910) merupakan salah satu perintis toko (dagangan) di kawasan ini. Tahun 1914 mereka di Citepus. Pascatragedi Bandung Lautan Api (1946) warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegallega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi.
Ingat, setiap pecinan dipimpin oleh wijkmeester. Kawasan Suniaraja dipimpin Thung Pek Koey dan Citepus oleh Tan Nyim Coy. Setiap wijkmeester dipimpin seorang luitennant der chineeschen. Tan Djoen Liong adalah luitennant-nya urang Bandung (H Buning, 1914). Hingga kini daerah pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jalan Pasar Baru, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Gardu Jati, Jalan Cibadak, dan Jalan Pecinan.
Kedua, Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung. Keberadaan Masjid Lautze 2 ini tidak lepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (1991).
Masjid Lautze 2 merupakan cabang dari Masjid Lautze 1 (Jakarta). Penamaan Yayasan Haji Karim Oei diambil dari seorang tokoh Islam keturunan China yang pernah menjadi konsul Muhammadiyah di Bengkulu tahun 1930.
Mengingat jumlah warga Muslim keturunan China di Kota Bandung cukup banyak, tetapi belum ada wadah untuk menyambung tali silaturahim di antara mereka, dibentuklah Sekretariat Yayasan Haji Karim Oei Bandung di sebuah bangunan bertingkat yang disewa lantai bawahnya semata.
Kendati mengontrak, semangat menyambung tali silaturahim di di antara Muslim keturunan China tak menjadi halangan dalam memakmurkan Masjid Lautze 2 ini.
Ketiga, kelenteng. Sekitar 00 kelenteng tersebar di kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Wihara Satya Budhi (Yayasan Satya Budhi) di Jalan Kelenteng, Kota Bandung, merupakan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung yang dibangun pada 1865 (Kompas, 15/01/09)
Harus diakui, dari tempat ibadah ini terpancar sikap keterbukaan, toleransi, dan keragaman. Sebutan Tri Dharma (Tiga Ajaran Kebajikan) pun melekat pada tempat peribadatan Tionghoa sekaligus upaya memelihara dan menjunjung nilai-nilai ajaran yang telah disampaikan Kongzu, terlepas dari apakah mereka dikategoritan beragama Buddha, Tao, atau Konghucu. Yang jelas mereka keturunan Konzi dan harus memelihara sekaligus menyebarluaskan ajaran kebaikan dan kebijaksanaan tersebut.
Keempat, barongsai. Me-nyunda-nya lion dance ini terlihat di Komunitas Barongsai Long Qing (baca: Lung Ching) di Gedung Winaya Sabha, Cibadak, Kota Bandung.
Uniknya, kebanyakan dari mereka saat berlatih (Senin, Selasa, Rabu Jumat) justru bukan keturunan Tionghoa. "Sembilan puluh persen malahan orang Sunda," tutur Tan Siauw Gie.
Meski terbuka dengan kultur dan kesenian lokal, barongsai tetap tidak kehilangan jati dirinya sebagai warisan budaya Tionghoa. Saat tampil, pemain wajib berpakaian khas mirip baju wushu. Ada juga kebiasaan pai atau hormat kepada penonton, ungkap penasihat Yayasan Sosial Priangan.
Bandung Santo Club, komunitas dragon lion dance, merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Widyatama. "Ini adalah satu-satunya UKM barongsai-liong di Bandung," kata Andreas, Presidium Bandung Santo Club.

Falsafah

Keturunan Tionghoa masih meyakini Lima Kebajikan (wung chang), ren (cinta kasih), ie (kebenaran), li (kesusilaan), ce (kebijaksanaan), dan sin (dapat dipercaya) dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, bijak, dan berbahagia.
Soal hubungan sosial-budaya, Nabi Kongzi mengajarkan kepada pengikutnya untuk memegang ajaran wu lun; hubungan antara pemimpin-bawahan, suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, kawan-sahabat.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, di masyarakat Sunda dikenal ungkapan Pindah cai pindah tampian. Ki Sunda harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru, baik tempat tinggal maupun tempat pekerjaan. Itu tak lain supaya tidak mudah terseret pada pertengkaran dan agar disukai oleh lingkungan baru.
Pun keturunan Babah, mereka kerap membumikan falsafah Tiocu, Jio Kang Sui Swan, Jip Koi Sui Nyak. Masuk ke sungai harus mengikuti adat yang berlaku di situ. Tentu, semboyan ini mirip dengan pemahaman Melayu: di mana bumi di pijak, di situ langit di jungjung.
Dengan demikian, akulturasi Tionghoa dengan Sunda semakin kokoh. Apalagi, konfusianisme menekankan bahwa tata cara manusia harus sesuai dengan aturan alam. Menurut Fung Yu Lan (1952), seorang manusia dengan manusia lain harus mengikuti tata cara kehidupan yang telah dibangun oleh para orang bijak kuno sesuai dengan tata cara semesta.
Ini merujuk kepada kutipan kitab Mengzu (Mengsusi), "Tinggal di dalam rumah besar dunia ini mempertahankan akan posisi yang betul dalam dunia dan mengikuti dao yang agung dari dunia ini."
Sejatinya, pandangan dan pikiran yang mengarah pada perdamaian dan keharmonisan serta kekuatan cinta kasih selalu memberi simpati yang bermuara pada kebahagiaan. Tentu, seseorang yang mengembangkan dan menyebarluaskan sikap ini akan memberikan keteduhan hati dan kemuliaan diri.
Inilah model keharmonisan, kesempurnaan, kesinambungan yang diajarkan Nabi Khongcu. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Sunda. Gong Xi Fa Cai. IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Read more »

Sejarah Patekoan dan Kapitein Gan Djie

Sejarah Patekoan dan Kapitein Gan Djie

Kisah awal Gan Djie

Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.

Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.

Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.

Setelah bermukim lama di Gresik, ia meminta izin kepada kakaknya untuk berjualan kelontong berkeliling di desa-desa. Ia biasa masuk ke pelosok-pelosok desa bersama kulinya seorang Jawa yang membantunya memikul barang dagangannya. Karena sikapnya yang baik dalam melayani pembeli, dalam waktu singkat  ia memperoleh banyak pelanggan. Satu dua tahun kemudian ia menambah kulinya dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan modal.

 Pada suatu sore, di sebuah desa, ia menginap di sebuah warung. Di warung itu sebelumnya telah tiba terlebih dulu dua tiga orang yang sikapnya tidak baik. Mereka juga menginap di warung tersebut. Di warung, Gan Djie mendapat sebuah kamar sebagai tempat tidurnya untuk melepas lelah.

Sorenya, tak kala Gan Djie berjalan-jalan, ia diikuti oleh seorang gadis,  yang bekerja di warung itu, kerabat isteri pemilik warung. Sang gadis memberi isyarat ia mau bicara. Dengan suara berbisik-bisik sang gadis memberi tahu, di warung itu menginap dua tiga orang yang tampaknya bukan orang baik-baik. Didengarnya, salah seorang di antara mereka menyebut-nyebut diri si pedagang kelontong ketika mereka mengobrol. Maka sang gadis dengan suara bersungguh-sungguh menyarankan agar malam ini Gan Djie berjaga-jaga, bahkan kalau perlu tidak tidur.

Gan Djie merasa sangat berterima kasih atas nasihat itu. Malam itu ia tidak tidur, ia sengaja memasang pelita sembari membaca buku, sementara senjatanya siang hap to (sepasang golok kembar) diletakkan di sampingnya.

Keesokan harinya, sekembalinya ke Gresik, ia berangkat lebih siang. Dalam perjalanan ia diikuti oleh orang-orang yang dijumpainya di warung. Namun mereka tidak dapat turun tangan, sebab Gan Djie baru melanjutkan perjalanan kalau ada orang lain yang turut bersamanya.
 
Gan Djie merasa sangat berutang budi kepada sang gadis. Beberapa minggu kemudian, sewaktu datang lagi ke warung itu, ia menyatakan kepada pemilik warung bahwa ia ingin mengambil sang gadis sebagai istri, untuk membalas budinya.
 
Demikianlah sang gadis lalu dinikahinya serta diajak pindah ke Gresik. Dan atas anjuran istrinya, Gan Djie menghentikan berdagang keliling dan berjualan saja di ruamh sendiri.
Beberapa tahun kemudian Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Ia lalu pindah ke Batavia atas saran dari kerabatnya.

Pindah ke Batavia – Asal usul  nama Patekoan

 Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.

Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.

Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak  Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.

Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.

Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.

Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.

Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.

Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat.  Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.

Nyai Gan Djie menjadi Wakil Kapitein

Pada tahun 1666, setelah memangku jabatannya selama tiga tahun, Kapitein Gan Djie wafat. Jenazahnya dimakamkan di Molenvliet Oost – kini Hayam Wuruk – dengan upacara yang cukup megah. Usahanya dilanjutkan oelh putranya Gan Hoo Hoat.

Lantaran sulit memperoleh penggantinya, maka pemerintah meminta Nyai Gan Djie menggantikan jabatan almarhum suaminya hingga nanti pemerintah mengangkat orang lain.

Dikisahkan, selama memangku jabatan Wakil Kapitein, banyak  urusan rumah tangga warga masyarakat Tionghoa telah bisa diatur dan diselesaikan secara damai oleh nyonya itu.

Pada tahun 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena merasa dirinya sudah tua, Nyai Gan Djie mengajukan surat pengunduran diri dari kedudukannya sebagai Waarnemend Kapitein Tionghoa. Pengunduran itu diterima baik oleh pemerintahan. Kepadanya diserahkan surat penghargaan dari pemerintah.

Sebagai gantinya pemerintah mengangkat Tjoa Hoan Giok sebagai Kapitein  der Chineezen keempat (masa jabatan 1678-1685 ). Secara resmi ia mulai memangku jabatannya pada 14 Juni 1678.

 David Kwa adalah seorang budayawan Indonesia yang pakar dibidang sejarah peranakan tionghoa.

Pindah ke Batavia – Asal usul  nama Patekoan

 Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.

Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.

Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak  Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.

Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.

Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.

Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.

Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.

Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat.  Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Read more »

Hal Memberi (2)

(sambungan)

Lalu lihat bagaimana cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul. "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Tidak dikatakan bahwa yang kekayaannya luar biasa melimpah yang membantu, tapi mereka secara kolektif saling berbagi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang kaya, ada yang cukup, berapapun yang ada pada mereka, semua mereka pergunakan untuk kepentingan bersama dalam kebersatuan yang begitu indah. Hal ini kembali disinggung dalam pasal 4. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama." (4:32). Kembali kita melihat disini bahwa tidak ada batasan kaya untuk memberi, dan kita bisa melihat bagaimana Tuhan memberkati jemaat mula-mula ini dalam banyak hal, terutama dalam hal pertumbuhan jumlah jemaat. 

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat Firman Tuhan yang berbunyi: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." (2 Korintus 9:8 BIS). Tuhan selalu rindu untuk mengucurkan berkat kepada kita, tetapi kita harus tahu untuk apa sebenarnya berkat itu diberikan kepada kita. "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Itulah hakekatnya mengapa kita diberkati, yaitu untuk memberkati orang lain. Banyak sedikit uang yang dimilikinya bukanlah menjadi ukuran, tetapi kerelaan hatinya dalam memberi atas dasar belas kasih, itulah yang seharusnya menggerakkan kita untuk berbuat baik dan beramal. Ini sesuai dengan bunyi Firman Tuhan bahwa kita diminta untuk memberi "menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Mengapa? "Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Ini bisa kita baca dalam 2 Korintus 9:7. Artinya, besar kecilnya pemberian kita, dalam bentuk apapun, berapapun yang kita punya saat ini, selama kita memberi dengan kerelaan dan sukacita, maka Tuhan akan menghargai itu dengan sangat besar.

Anda merasa tidak punya cukup untuk diberikan? Anda merasa kemampuan anda terbatas dan anda merasa tidak ada yang istimewa dengan kemampuan anda itu? Berhentilah berpikir seperti itu, karena itu  tidak akan pernah bisa menjadi alasan untuk tidak memberi. Sesungguhnya jika kita mau melihat atau memeriksa kembali apa yang kita punya, Tuhan sudah melengkapi kita untuk melakukan setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:17). Artinya kita tinggal memiliki sebentuk hati yang penuh kasih, yang rindu untuk menolong orang lain, siapapun mereka. Selebihnya sudah disediakan langsung oleh Tuhan. Mari luangkan waktu untuk meresapi ayat berikut: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Kita tidak akan pernah kekurangan setelah memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, Tuhan justru akan terus melipat gandakan agar selain kita mampu mencukupi kebutuhan kita, tetapi terlebih pula agar kita mampu memberkati orang lain lebih dan lebih lagi. Kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Hati yang bersukacita dalam memberi tidak akan memandang kekurangan atau keterbatasan diri sendiri, tetapi mampu melihat dengan penuh rasa syukur bagaimana Tuhan selama ini telah memberkati kita.

Jadilah orang murah hati seperti Bapa adalah murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Read more »

Blogroll