Rabu, 19 Oktober 2011

Kerjasama dalam Satu Kesatuan

Ayat bacaan: Ibrani 10:24
=====================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."

kerjasamaBagus tidaknya sebuah tim sepakbola bukan hanya tergantung dari satu dua pemain, melainkan bagaimana kerjasama tim sebagai suatu kesatuan. Benar bahwa ada beberapa pemain kunci yang akan sangat menentukan aliran serangan dan kekuatan pertahanan, tetapi mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa jika pemain lainnya bermain buruk. Ada pula yang dikenal dengan "pemain keduabelas" yang tidak lain adalah penonton. Dukungan dari suporter atau penonton ini sering pula memberi nyawa tambahan tersendiri bagi tim yang bermain. Semua itu adalah satu kesatuan, satu unit, yang saling bersinergi satu sama lain untuk mencapai kesuksesan. Dalam perkembangan musik pun demikian. Saya bergelut di dunia musik dari sisi media mengetahui dengan pasti bahwa jika semua elemen di dalamnya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak ada yang bisa kita capai. Musisinya luar biasa, tetapi jika tidak ada pihak media yang mendukung dengan serius maka mereka tidak akan bisa menapak naik. Sebaliknya untuk apa media musik seperti saya tanpa musisi yang punya kemampuan baik? Elemen-elemen lainnya seperti event organizer, promotor, manajer termasuk juga fans dan keluarga pun harus turut ambil bagian mengerjakan bagiannya masing-masing. Hanya dengan itulah kita bisa mencapai sesuatu hasil yang baik.

Manusia adalah mahluk sosial yang tetap membutuhkan kehadiran orang lain yang bisa menyemangati atau mendorong untuk tidak menyerah dan terus maju. Manusia tidak bisa hidup sendirian, no one is an island. Dan memang seperti itulah sejatinya kita diciptakan Tuhan. Tuhan jelas berkata di awal penciptaan bahwa "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja..." (Kejadian 2:16). Ini menunjukkan dengan jelas bagaimana manusia sejak awal bukan dirancang untuk menjadi individualis-individualis egois yang berjalan sendirian, tetapi dibentuk menjadi mahluk sosial yang terhubung atau connected dengan sesamanya. Tidakkah kita pernah merasa bagai mendapat tenaga baru ketika mendapat dukungan dari teman-teman atau keluarga di saat kita mungkin sudah mulai "kehabisan bensin" dan berpikir untuk menyerah? Secara alamiah faktanya manusia adalah mahluk yang lemah dan terbatas  Sejauh mana sih kita bisa melakukan sesuatu apabila hanya sendirian? Kelemahan dan keterbatasan ini cepat atau lambat bisa membuat kita patah semangat, frustasi dan kemudian menyerah. Di saat tekanan begitu intens menerpa kita bertubi-tubi kita bisa kehabisan tenaga lalu mulai putus asa kehilangan harapan. Di saat seperti inilah  kita butuh orang-orang yang peduli pada kita. Kita butuh tambahan "bensin" agar bisa terus bergerak, kita butuh "pemain keduabelas" dan "rekan-rekan satu tim" yang bisa saling dukung untuk mencapai kesuksesan bersama. Kita butuh orang yang mampu memberikan dukungan moril. Dorongan semangat seperti ini sungguh sangat berarti bagaikan setetes embun di padang gurun. Di sisi lain, ketika teman kita yang mulai kehabisan tenaga, giliran kita pula yang menjadi penyemangat dan mendukung mereka agar bisa kembali bangkit.

Mengingat kemampuan dan daya tahan manusia yang terbatas inilah sebuah pesan dari penulis Ibrani mengingatkan "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Saling memperhatikan, saling mendorong, saling support dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. We need a teamwork, we need to work as a team. Ketika yang satu lemah, yang lain menguatkan, begitu seterusnya. Bekerja sama, saling bahu membahu dan menguatkan, bukan sebaliknya saling iri, dengki dan menjatuhkan. Perhatikan baik-baik ayat tersebut. Kita harus saling memperhatikan. Mengapa? Supaya kita mengetahui satu sama lain dan bisa saling mendorong, mensuport, mendukung atau menguatkan. Di dalam apa? Di dalam kasih dan pekerjaan baik. Bukan pekerjaan yang buruk apalagi jahat, tetapi pekerjaan baik, untuk tujuan baik, untuk memuliakan Tuhan di dalamNya. Seperti itulah gambaran bagaimana seharusnya kita bergerak. Bukan sendiri-sendiri, tetapi dengan bekerjasama, saling dukung dan saling bantu antara satu dengan lainnya.

Penyemangat. Betapa indahnya kata ini terdengar terutama ketika kita sedang kelelahan menghadapi beratnya hidup. Sosok seperti ini dibutuhkan semua orang tanpa terkecuali, apalagi dalam urusan iman. Hidup di dunia hari ini tidaklah gampang. Tekanan krisis dan rupa-rupa penyesatan hadir di mana-mana menekan kita dari setiap arah. Cepat atau lambat, tenaga kita akan melemah dan kita bisa menyerah, terjatuh dan masuk ke dalam jurang kegelapan. Di saat seperti inilah pesan Penulis Ibrani begitu penting. Artinya kebersamaan di antara saudara-saudari seiman haruslah terbina erat dalam dasar saling mengasihi, memperhatikan, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Ini penting dalam menghadapi hari-hari yang semakin sulit seperti apa yang kita hadapi saat ini. Jalan terasa makin terjal, langkah terasa makin berat. Karena itu kita harus tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama agar saling mengingatkan, mendukung maupun menguatkan. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Kita bisa saja beribadah sendiri di rumah, dan benar bahwa ibadah yang sejati bukanlah ibadah di gereja atau persekutuan melainkan cara kita hidup sehari-hari dengan mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1. Tetapi kita akan mengabaikan jati diri kita sebagai mahluk sosial dan dengan sendirinya mengabaikan kehendak Tuhan apabila kita melewatkan ibadah bersama saudara-saudari lainnya baik di gereja maupun di persekutuan. Hal ini sangatlah penting untuk kita ingat, begitu pentingnya sehingga bertolong-tolong dalam menanggung beban sehingga orang yang melakukannya dikatakan memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2).

Sepanjang Perjanjian Baru kita membaca berulang-ulang mengenai kepastian kedatangan Kristus untuk kali kedua. Dan berulang kali pula kita diingatkan bahwa kedatanganNya yang kedua sudah dekat. "Tuhan sudah dekat!" (Filipi 4:5b). "..kedatangan Tuhan sudah dekat!" (Yakobus 5:8) Kitab Wahyu pun berkata: "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya." (Wahyu 22:12). Adalah penting bagi kita untuk terus berjalan di jalur yang benar menjelang kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya yang sudah semakin dekat, sehingga kita akhirnya bisa mencapai garis akhir yang baik dan bisa berkata seperti Paulus,"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Timotius 4:7). Kelak akan ada hari dimana kemudian kita dianugerahkan mahkota kebenaran oleh Tuhan. (ay 8). Untuk itulah kita perlu saling menyemangati, saling mendorong, menasehati, menguatkan dalam kasih, agar jangan ada di antara kita yang tergelincir keluar dari jalur, sehingga kita semua bisa mencapai garis akhir dengan baik. Marilah kita mulai hari ini. Bangunlah hubungan yang kuat, utuh dan erat dengan orang lain, dan isilah hubungan itu dengan segala sesuatu yang positif. Saling menguatkan, membangun, mengingatkan, mendorong, tolong menolong, peduli satu sama lain, itu akan membuat kita bisa tetap kuat menghadapi hari-hari yang berat.

There is no superman but surely there is superteam

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll