Kamis, 31 Mei 2012

Mengalami Pendisiplinan Tuhan

Ayat bacaan: Ibrani 12:7
========================
"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?"

pendisiplinan TuhanMenjelang akhir era 70an ada seorang anak remaja yang sontak menjadi idola di Amerika. Banyak orang menganggapnya sebagai boyband pertama di dunia. Suaranya yang merdu, penampilannya yang cakap membuatnya menjadi terkenal dalam waktu singkat. Sayangnya di tengah kesuksesan itu ia kemudian terlibat dalam obat-obatan terlarang dan membuat pelanggaran di beberapa tempat umum. Beberapa kali ia lolos dari penjara dan mendapat hukuman rehabilitasi dan denda, tapi itu tidak membuatnya kapok. Akhirnya ketika ia membuat pelanggaran kembali, ia pun harus mendekam di penjara selama sekitar sebulan setengah. Disana ia kemudian mendapatkan pelajaran berharga. "Tampaknya saya memang harus rela mendekam di penjara, dan disana saya bisa melakukan itrospeksi terhadap segala kesalahan yang sudah saya lakukan. Jika mau hidup baik, kita harus menjauhi obat-obat terlarang." katanya kemudian dalam sebuah wawancara. Sebuah hukuman memang tidak enak untuk dijalani. Tapi jika itu demi kebaikan, kita harus rela menanggung konsekuensinya dan belajar dari hal itu. Hari ini ia sudah menjadi seorang yang dewasa dan kembali hidup normal. The turning point for him came when he was sentenced into prison. Ia kini bisa berkata bahwa lebih baik hukuman itu ia terima ketimbang ia harus mati akibat overdosis, kecelakaan karena mengemudi dalam keadaan "fly"/mabuk dan lainnya.

Ketika anda masih kecil tentu ada waktu-waktu dimana anda dihukum orang tua karena berbuat salah. Hukuman bisa terasa menyakitkan, bahkan sebagian orang masih mengingat pengalaman tersebut hingga dewasa. Meski tidak enak, tapi itu semua adalah demi kebaikan sendiri juga. Ada yang mengatakan bahwa tanpa pernah jatuh seseorang tidak akan pernah bisa naik sepeda, dan sama seperti itu, kita tidak akan bisa menjadi siapa diri kita hari ini tanpa pernah mendapatkan hukuman dari orang tua di saat kita masih kecil, atau dalam proses perjalanan hidup kita hingga hari ini.

Sama seperti orang tua yang terpaksa harus mendisiplinkan anaknya lewat hukuman, Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih pun terkadang perlu untuk mendisiplinkan kita. Ketika menjalaninya bisa jadi terasa menyakitkan. Kita terkadang mengeluh bahkan berteriak karena menganggap Tuhan terlalu keras atau malah menuduhNya tidak adil. Ketika Dia menghukum kita, kita menganggap bahwa Tuhan berlaku kasar dan tidak sesuai dengan sosokNya yang penuh kasih. Tentu tidak seperti itu. Kita harus tahu bahwa terkadang kita bisa melakukan kesalahan, dan karenanya kita butuh ditegur atau bahkan dihukum. Itu bukan dengan tujuan menyakiti kita, melainkan untuk membangun diri kita agar menjadi layak di hadapanNya, seperti apa yang Dia rindukan bagi kita semua. All for our own sake. Dan itu akan jauh lebih baik ketimbang kita dibiarkan terus melenceng dan kemudian harus kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Kristus bagi kita.

Penulis Ibrani menjelaskan mengenai bentuk pendisplinan dan pengajaran Tuhan serta tujuannya. "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Tuhan menegur kita bukan karena punya sifat kejam, namun justru karena Dia mengasihi kita. Justru karena kita dianggapNya sebagai anak-anakNya, yang harus diajar agar benar hidupnya, tidak melenceng keluar jalur. Para orang tua tentu paham pentingnya mengganjar anak-anak mereka yang masih kecil dengan hukuman sekali waktu, agar mereka bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Seperti itu pula-lah kita dimata Tuhan. Betapa inginnya Tuhan menjadikan kita anak-anakNya yang tidak bercela, karenanya Tuhan menganggap perlu untuk mendisplinkan kita jika berbuat salah. "Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (ay 7,8). It shows His concern and His love. Kalau begitu, seharusnya bukan saat kita ditegur dan didisplinkan kita harus bersedih, tapi bersedihlah jika Tuhan justru tidak menunjukkan teguran apapun, dan membiarkan kita terus terseret arus kesesatan semakin jauh.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma berkata: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Kita sering melihat ayat ini dan menganggap bahwa ini adalah ayat yang berbicara hanya soal "kebaikan" seperti kenyamanan, pertolongan Tuhan, hidup tanpa masalah dan sebagainya. Tapi ingatlah bahwa sebentuk teguran, peringatan atau hukuman, lembut atau keras, semua itupun termasuk hal-hal yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan. Kita ditegur agar lebih baik, kita dimarahi agar tidak terus melakukan kesalahan, kita dihukum agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Itu juga mendatangkan kebaikan. Tuhan menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak, menghajar anak-anakNya agar menjadi pribadi yang benar, sehingga layak di hadapanNya dan bisa menerima janji-janjiNya secara utuh. Tidak selamanya hidup ini mudah dan menyenangkan.

Ada masa-masa dimana kita harus menangis akibat dihukum. Jangan bersungut-sungut, jangan menyerah, jangan putus asa, jangan pula mengeraskan hati dan membangkang. Yakobus mengingatkan hal ini, dan menganjurkan agar kita merasa beruntung dan tetap bertekun ketika mengalami pencobaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Mengalami pendisiplinan Tuhan harusnya kita pandang sebagai sesuatu yang membahagiakan. Itu diingatkan Yakobus untuk kita cermati. Itu merupakan "masa-masa di padang gurun" yang harus kita lewati agar layak memasuki "tanah terjanji". Jika anda tengah mengalaminya, tetaplah bertekun hingga memperoleh buah yang matang, hingga anda kembali ke jalur jalan yang benar dan bisa mencapai garis akhir dengan kemenangan yang gilang gemilang. Pada saatnya, anda akan diangkat keluar dan dinyatakan lulus sebagai manusia baru yang telah layak untuk menerima kemuliaan Tuhan.

Bersyukurlah ketika Tuhan menegur, karena itu tandanya Dia mengasihi kita sebagai anak-anakNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll