Minggu, 02 September 2012

Kerjasama yang Melibatkan Tuhan

Ayat bacaan: Lukas 5:19
====================
"Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus."

Sebuah kejadian yang sangat heroik sekaligus mengharukan tercatat dalam sepenggal kisah di Alkitab. Pada saat itu ada seorang lumpuh yang ingin bertemu dengan Yesus agar disembuhkan. Ia pun digotong oleh keempat sahabatnya untuk menuju ke sebuah rumah di Kapernaum, dimana Yesus pada saat itu tengah berada. Tapi usaha mereka tampaknya sulit untuk direalisasikan, karena pada saat itu kerumunan orang menutupi jalan mereka menuju Yesus di dalam rumah. Apakah mereka lantas mundur teratur dan pulang lagi? Atau marah kepada kerumunan orang disana dan menolak tubuh mereka satu persatu agar bisa masuk? Alkitab menyatakan bahwa mereka ternyata mengambil sebuah keputusan yang terbilang berani. Inilah yang tertulis disana: "Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus." (Lukas 5:19) Dalam versi Markus dikatakan bahwa yang menggotong sang teman yang lumpuh berjumlah empat orang. (Markus 2:3). Melihat situasi yang sulit, mereka pun melakukan sesuatu yang sebenarnya sulit pula untuk diterima akal sehat. Bayangkan, pertama-tama mereka harus membawa teman mereka yang lumpuh untuk naik ke atas atap. Itu sudah sangat sulit. Lalu mereka harus membuka atap itu dan secara perlahan menurunkan sahabat mereka yang lumpuh itu tepat di depan Yesus. (Lukas 5:19). Itupun sebuah hal yang pastinya sangat sulit untuk dilakukan. Jika kasur itu diturunkan tidak seimbang oleh keempat-empat sahabat itu, tentu rekan mereka yang lumpuh akan jatuh jungkir balik ke bawah. Tetapi lihatlah besar kasih mereka terhadap teman yang lumpuh sehingga mereka rela untuk bersusah-susah melakukannya. Hasilnya? Tuhan Yesus memberi kesembuhan atasnya.

Setelah kemarin saya menyinggung pentingnya sebuah kesatuan diantara anak-anak Tuhan terutama dalam menghadapi hari-hari menjelang akhir zaman, hari ini kita bisa belajar melihat bagaimana kerjasama yang terjalin erat antara beberapa orang ternyata mampu mendatangkan hasil yang luar biasa. Dari kisah ini kita juga bisa melihat bagaimana keterlibatan Tuhan dalam sebuah kerjasama membawa sebuah hasil yang luar biasa pula. Pertama, lihatlah ada empat orang mengusung orang lumpuh di atas tempat tidur, membawanya ke atas atap lalu menurunkannya. Tidak ada catatan bahwa si lumpuh terguling jatuh. Artinya, ke empat-empatnya tentu bekerjasama dengan baik untuk menjaga kasur itu tetap seimbang. Tanpa kerjasama yang baik, niscaya si lumpuh akan terbanting ke bawah. Lalu, jika itu dilakukan tanpa adanya campur tangan Kristus, si lumpuh tidak akan pernah sembuh. Inilah satu lagi bentuk kerjasama dengan melibatkan Tuhan yang menghasilkan kesembuhan atau keselamatan. Begitu besar dampak yang bisa dihasilkan lewat sebuah kerjasama.

Tidak ada manusia yang sanggup bertahan hidup dengan baik jika hanya sendirian. Kita sejak semula diciptakan sebagai mahluk sosial yang hidup dengan berinteraksi dengan sekitar kita. Yesus pun sangat mengerti dengan hal ini. Perhatikan ketika Yesus mengutus kedua belas rasulnya untuk melakukan tugas pelayanan. "Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua." (Markus 6:7a). Tuhan Yesus tidak mengutus mereka sendiri-sendiri, atau membiarkan mereka menentukan sendiri, tapi secara spesifik Yesus mengutus mereka berpasangan. Yesus tahu betul bahwa manusia punya keterbatasan dan tergolong lemah, sehingga jika mereka pergi berdua, ada satu yang akan menguatkan seandainya yang satu menjadi lemah. Dari sini kita pun bisa melihat bahwa Tuhan menginginkan bentuk kerjasama di antara anak-anakNya. Dalam ayat selanjutnya Yesus malah berpesan agar mereka tidak membawa apa-apa. Tidak bekal, tidak uang, tidak juga baju ganti. Hanya tongkat yang Dia ijinkan (ay 8).  Apa yang saya tangkap dari kisah ini adalah sebuah penekanan dari Tuhan bahwa kerjasama di antara manusia itu akan mampu mengatasi masalah yang bisa jadi pada suatu ketika akan merintangi jalan kita menuju kesuksesan. Selengkap dan sekaya atau sepintar apapun seorang manusia, semua itu tidaklah berguna apabila hidup sendirian. Namun adanya kesepakatan dan keakraban dengan sesama manusia lainnya, itu akan membawa manfaat yang jauh lebih besar daripada kelengkapan secara harta, materi, intelegensia dan sebagainya.

Kita pun sampai pada sebuah pertanyaan: sudahkah kita peduli pada saudara-saudara kita yang mungkin sedang melemah baik fisik maupun rohaninya? Rasul Paulus mengingatkan "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Jangan cuek, jangan menutup mata dari permasalahan saudaramu. Ingatlah bahwa meski Tuhan mampu menurunkan mukjizatNya secara langsung, namun di sisi lain Tuhan pun bisa memakai anda! Saling tolong menolong menunjukkan sikap mengasihi, dan ini sesuai dengan hukum Kristus. Kepada jemaat Roma pun Paulus mengingatkan hal yang sama. "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (Roma 15:1-2). Sudah saatnya kita berhenti untuk mencari kesenangan atau kepuasan diri sendiri saja. Sekarang waktunya bagi kita untuk mulai peduli pada keadaan di sekitar kita. Ada begitu banyak orang yang sedang membutuhkan uluran tangan. Bahkan ada banyak orang yang belum mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Bertolong-tolonglah. Bekerjasamalah. Bersepakatlah. Baik dalam pekerjaan maupun pelayanan. Dan tentunya, lakukanlah semua dalam nama Yesus, dimana dalam setiap kerjasama yang anda lakukan, ada Tuhan yang dilibatkan dan dimuliakan di dalamnya. Jangan bersikap sombong dan selalu mau menang sendiri, jangan bersikap antipati, saling curiga dan memusuhi, tapi ingatlah bahwa kita diajar unuk selalu bersikap rendah hati, lembut dan sabar, serta menyatakan kasih kita kepada sesama manusia dengan jalan saling membantu. (Efesus 4:2). Sesuai dengan hakekat manusia sebagai mahluk sosial, demikianlah kita diciptakan Tuhan, hendaklah kita peka terhadap keadaan sesama manusia setidaknya yang berada di sekitar kita. Bantulah mereka jika butuh, karena dengan itulah kita memenuhi hukum Kristus. Menjadi terang dan garam. Suatu waktu nanti kita pun akan butuh bantuan orang lain, dan di saat itu orang lain akan menjadi berkat buat anda. Ini bentuk kerjasama timbal balik yang saling menguntungkan, dan itulah yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk dilakukan oleh anak-anakNya.

Kerjasama yang melibatkan Tuhan akan membawa hasil luar biasa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll